Om Swastyastu.
Kali ini saya akan melanjutkan cerita dari mba Arum yang berjudul Apakah Saya Melik?. Cerita ini berdasarkan mimpi yang menjadi kenyataan. Cerita ini adahal cerita yang terakhir. Selanjutnya saya akan membagikan cerita perjalanan yang sebenarnya dari mba arum. Judulnya masih sama cuma selanjutnya versi perjalanan nyata. Penasaran kan?. Ditunggu ya. Ok kita menuju ceritanya..
Sebulan lewat dari mimpiku yang ketiga. Dan aku masih tidak peduli dengan serangkaian mimpi yang pernah aku alami sebelum nya. Ku anggap hanya sama seperti mimpi mimpi ku selama hidup, hanya bunga tidur.
Aku masih beraktifitas dengan keseharianku, sebagai ibu tunggal. Merawat anak ku yang yang baru berusia 1 tahun. Perlahan - lahan aku mencoba melupakan segala hal tentang rasa sakitku. Meskipun itu sangat berat. Sangat berat memperjuangkan dari pada mendapatkan.
Pagi, siang dan malam. Sangat cepat terlewatkan. Hari - hari tanpa kegiatan yang berarti. Lama - lama aku jenuh. Hanya bermain hp atau game saja. Lelah lalu tertidur.
Aktifitas sudah berhenti. Malam pun tiba. Bayu yang sudah lelah bermain, mengajak tidur. Ku tidurkan dia dengan buaian Gayatri mantram. Sekejappun langsung tertidur pulas. Aku menarik gadget ku. Masih jam 7. Terlalu awal untuk tidur. Ku buka channel youtube nonton film sebagai pengantar tidurku. Tak terasa akupun terlelap.
Aku mimpi lagi,
Ku terbangun, kuajak anakku mandi dan sembahyang. Lalu tiba - tiba aku mengajaknya untuk melakukan perjalanan suci, Tirtayatra. Tanpa bekal tanpa apapun. Hanya bekal keyakinan dari Pura ke Pura. Itu rumahku.
" Nak, ayo ikut ibuk?," tanyaku
" kemana buk?," tanya Bayu
" kita akan melakukan perjalanan jauh, kita ke Rumah Hyang Widhi," jawabku.
" kita akan berjalan dari Pura ke Pura nak," jelasku.
" Tapi buk,kita tidur dimana?," tanya bayu lagi.
" Tenang nak, Hyang Widhi ada dimana - mana, Pura adalah "rumah" kita nak "jelasku.
Dia pun mengangguk. Mengiyakan ajakanku. Kami berjalan dari Pura ke Pura. Tiba tengah hari. Aku dan anak ku menghaturkan bakti. Lepas selesai aku keluar untuk melanjutkan perjalanan. Aku melihat seorang kakek berbaju pakaian putih dengan rambut di sanggul di atas.
" Om Swastyastu Eyang," sapaku.
" swastyastu anakku, nak, (laku o nang sewu pura sewu candi, mengko opo seng kok karepne bakal ketemu (pergilah ke seribu pura atau candi, nanti kamu akan tahu apa yang kamu cari)," nasihat kakek itu.
"Nggih Eyang (iya, Eyang)," jawab ku membungkukkan badan.
Tiba - tiba kakek itu menghilang. Siapa kah Beliau ini. Aku terbangun dan lagi - lagi masih sekitaran jam 3 pagi. Aku bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa dengan seribu pura atau candi? Dimanakah itu? Kalau di Bali, itu tidak usah di tanya lagi ribuan. Ah, mungkin bunga tidur.
Lanjut ke cerita perjalanan.. Ditunggu ya...
Baca Cerita Semeton Sebelumnya :
Bagaimana cerita ini menurut kalian? Tulis komentarnya di bawah ya.
Terimakasih, matur nuwun, matur suksma atas apresiasinya. Dan terima kasih juga sudah membaca artikel ini. Ini hanya sekedar tulisan dan bukan bermaksud apa apa dan murni dari apa yang saya alami.
Jangan lupa share ke teman teman dan grup social media kalian.
Happy Nice Day.
Om Santih , Santih, Santih Om