Om Swastyastu.

Kali ini saya akan membagikan cerita dari mba Arum yang berjudul Apakah Saya Melik?. Saya senang membaca cerita pengalaman mba arum ini karena menurutku unik. Sebenarnya ada beberapa part yang diceritakan oleh mba arum. Ditunggu ya part selanjutnya. Ok kita menuju ceritanya.

  2011,
   Hongkong kota yang tak pernah mati. 24 jam akan ada terus aktifitas. Aku berada pada bangunan tingkat 1218. Artinya lantai 12 no 18. Ya, tinggi sekali untuk ukuran orang yang takut ketinggian. Di luar jendela aku bisa melihat pegunungan nan indah. Tempat ku bekerja adalah tempat terbaik karena Matahari hanya akan masuk rumah saat pagi saja.

  Aktifitas ku berjalan dengan lancar hari ini. Tiba tiba ada wa masuk. Ku lihat nomor baru. Dan ku angkat telepone dari seberng sana.

  " hallo, pinwai a (hallo, ini siapa)?," ku jawab telepon ku, terbiasa dengan logat tempat ku bekerja. 

   " mosok lali karo aku! (Masa lupa sama aku)," jawab di seberang telepon.

    Deg... deg... deg... OMG... Orang yang ku sayank i waktu itu. Sebelum terjadi kesalah pahaman antara aku dan dia. Sebelum kami berdua diam tanpa kabar tanpa kata putus. Sebelum kami dewasa,, 17 tahun usiaku ketika mengenalnya. 

   " hallo, nglamun ya," tanyanya.

   " enggak, kaget aja, dari mana dapat nomerku," tanyaku padanya.

    " teko ibukmu, aku lebaran kerumahmu sama Mrs. Y, Aku di antar," jawabnya.

    " Oh,, (dia ya, orang yng dulu membuatmu jauh dariku karena ingin memilikimu)," jawabku singkat sambil berguman.

     Ah, kenapa dia muncul kembali. Kenapa saat aku sudah rela, dia datang kembali. Ohh, Tuhan aku di hadapi dengan ke galauan.

*** 

    Malam tiba, aktifitas kerjaku selesai. Aku membuka Tablet ku dan menonton acara kartun favoritku "detective conan". Aku masih sangat suka film kartun seperti ini. Mengasah otak dan selalu membuatku penasaran episode selanjutnya. Terlalu lelap hingga aku ketiduran di sofa.

  "Dimana ini, kenapa gak asing," ucapku sendiri.

   Aku melangkah seperti dalam hutan, menyusuri jalan setapak, tanpa tahu arah tujuanku. Aku menoleh kiri kanan. Pohon- pohon tinggi yang usianya sudah ratusan tahun. Aku tidak tahu pohon apa. Ku lihat diriku, kenapa aku pake kebaya? Kenapa aku berpakaian seperti orang jaman dahulu. Kenapa aku membawa dupa dan canang. Diantara kebingunganku sekelebat aku melihat seperti ada seseorang. Aku berjalan menghampiri, aku hampir kelelahan. Tak ku temui siapa pun. Dan orang itu hilang. Hanya hutan yang terlihat.

    Aku beristirahat sejenak di bawah pohon. Tiba - tiba kakiku seperti ada yang menuntun. Aku berjalan ke arah kanan. Ada sebuah bangunan mirip 1 candi ( lebih mirip candi penataran, yang di dalamnya terdapat Arca Ganesha). Entah itu tempat perabuan milik siapa. Tiba - tiba aku bisa sembahyang. Menyalakan dupa dan menghaturkan canang. Bersembahyang dan berdoa.  Saat aku berbalik dan berjalan agak menjauh, bangunan candi itu berubah menjadi tempat di masaku sekarang. Bangunan gapura perbatasan wlingi. Dan candi itu berada di utara gapura. Yang sekarang masih menjadi lahan kosong.

   Aku terbangun dari mimpiku. Bertanya - tanya apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa aku bisa sembahyang seperti yang dilakukan oleh mantan kekasih ku itu. Kenapa dan kenapa. Masih menjadi misteri dalam hatiku. Ku biarkan semua ini tanpa perduli, tanpa tahu bahwa akan memberikan aku mimpi - mimpi yang lain.

201*,( mohon maaf ini ku rahasiakan)
    Entah kenapa tiba- tiba aku penasaran dengan apa yang aku alami. Aku galau. Ah iya, Ku hubungi teman SMA ku Eka, ku tanyakan padanya tentang Weda. Dia memberitahuku bahwa aku bisa membeli buku BHAGAWAD GITA. Ya, aku menitip pada saudara dari kekasihku saat itu. Buku pertama yang aku miliki. Aku membacanya. Mencari apapun yang berhubungan dengan mimpiku. Hingga 2016 terjawab sudah. 😊

Aku percaya Hyang Widhi memberkati kita semua. Karena perjalananku masih panjang.

Rahayu.

Bagaimana cerita ini menurut kalian? Tulis komentarnya di bawah ya.
Terimakasih sudah membaca artikel ini jangan lupa share ke teman teman dan grup social media kalian.
Happy Nice Day.

Om Shanti Shanti Shanti Om.