Kali ini saya share cerita dari mba arum tentang perjalanan ke Situs Candi Sirah Kencong dan Pura Sapto Argo Sidolanggeng dalam 1 hari. Saya juga berperan dalam perjalanan ini. Saya ingin sekali pergi ke Blitar lagi dan ingin mengeksplor semua. Ok kita menuju ceritanya.
Pagi yang cerah, hari ini acaraku menjemput adik ku dari Bogor. Ya, bukan adik kandung maupun saudara tapi dia adik di tempat kami sama sama belajar Agama.
Setelah kemarin hari hari chat, dan aku tidak bisa menjemputnya karna terlalu pagi. Akhir nya ku tebuslah dengan hari ini. Ku ambil hp ku dan chat adek ku.
"Om swastyastu, Dek lagi dimana?, sudah sampai? Sudah sarapan?," serentetan pesan ku.
" Swastiastu mbak, adek lagi di rumah Romo Mangku Purnomo, mbak bisa kesini," jawabnya.
" Bisa dek, mbk siap2 dulu. Kamu sharelok ya?," balasku.
Akupun segera menyiapkan diri. Mandi dan mengganti baju anak ku Bayu.
" pakai baju biasa aja, toh cuma jemput. Nanti aja kalau sembahyang bersama baru ganti," guman ku dalam hati.
Anak ku seolah olah tahu apa yang di pikirkan ibunya. Dengan polos dan manjanya memberitahu ku.
"Buk, mbahyang (sembahyang)," ucapnya sambil kedua tangannya bersikap panganjali.
Aku tersadar dan segera mengganti bajuku dengan baju sembahyang. Segera ku meluncur ke arah Tegalasri.
***
15 menit berlalu,aku sudah sampai tujuan. Ternyata di jalan anak ku tertidur pulas. Dan segera ku menuju rumah dan mengucap salam.
"Om swastyastu, Romo, dek Nur," kujabatkan tanganku.
"Swastiastu, monggo pinarak(mari masuk)," ucap Romo Mangku Purnama.
Segara ku dudukkan diriku. Kami berbincang cukup lama dan aku berkenalan dengan Mangku Jarwo. Menikmati suguhan dan acarapun kami mulai. Tujuan pertama kami Situs Candi Sirah Kencong.
Kami sampai di tujuan setelah sebelumnya melalui jalan yang ekstrim dan menakutkan ( jalan setapak pejalan kaki pemetik teh).
Astungkara selamat sampai tujuan.
Kami membersihkan sekeliling Candi dan tak lupa aku memandangi hamparan bukit teh dan Gunung Kawi yang terlihat jelas di depan mata, sungai yang mengalir dekat dengan pemukiman. Kudapati 2 anak muda yang sedang selfi, tiba - tiba memperhatikan yang kami lakukan. Lalu mereka pergi. Kami pun mulai bersembahyang.
Selesai kami sembahyang, kami berfoto untuk kenang - kenangan. Lalu kami bergegas pergi karena waktu sudah cukup siang. Tujuan ke2 kami adalah Pura Sapto Argo Sido Langgeng di daerah Sumber Gondo.
Di sepanjang perjalanan tak berhenti lah aku berbincang dengan Romo Mangku Purnomo, ya sedikit menceritakan tentang diriku yang sekarang. Dan tentu saja tentang tujuan kedua kami.
Aku mengamati kiri kanan, mengecek dengan seksama mulai dari di bawah lereng gunung kelud, sungai, bukit, jembatan dan 1 paling utama Bangunan Pura (Padmasana). Seratus persen sama dan persis dengan mimpi ku setahun lalu (ini akan saya bahas lain tulisan). Tinggal satu pemastian lagi "Bagian dari Candi Pallah Penataran".
Kami sampai di tujuan, di sambut oleh Pak Bagus, selaku Pengempon Pura. Kami berbincang - bincang.
" Nah, akhirnya kesini juga ya mbak Arum," canda Pak Bagus.
" Enggeh Pak Bagus, niki mawon mboten di rencana (ini saja tidak di rencanakan)," jawabku.
Perbincangan kami cukup lama dan aku serta dek Nur di persilahkan untuk melaksanakan niat tujuan kami berdua.
***
Di dalam Candi, aku merasa dingin. Seperti ada yang memelukku dari belakang. Tak terasa air mataku menetes. Seperti rindu rumah. Rumah di mana aku merasa pernah tinggal dulu. Mungkin ini panggilan "Eyang".
Selesai menunaikan niat ku, kami berpamitan, jam menunjuk jm 5 sore. Kami bergegas karena tujuan kami selanjutnya PURA Agung Arga Sunya, Tirtomoyo Krisik.
Kami tiba di tujuan, tak lupa aku meminta izin kepada Bapak Suwari bahwa kami berada di Pura untuk beribadah.
Kami masuk, dan kulihat - lihat sekelilingku. Sudah gelap dan remang - remang. Kami duduk sebentar di Mandala Madya. Karena anak ku rewel minta Asi. Saya sendiri mengerti tempat suci tidak di perkenankan. Ini lah kegalauan seorang Ibu.
Ku pangku dan kuberikan Asi, ku lantunkan Gayatri Mantram di dekat telinganya agar dia tenang. Bayu memang tidak asing dengan Gayatri Mantram karena sejak dalam kandungan Ibu dan Ayahnya rajin membacakan untuknya. Selesai sudah dia minum Asi. Kami naik ke Mandala Utama.
Aku menoleh kesana - kemari, menikmati kesakralan Pura di malam hari. Menikmati sekeliling yang sunyi dan jauh dari hiruk pikuk manusia. Tanpa terasa aku merasakan saat memandang Padmasana, sebelah kiri dari dimana aku berdiri. Aku merasakan kehadiran sesosok perempuan. Entah itu siapa. Hanya sebentar ku rasakan. Karena mungkin kaget, aku bertanya pada Romo Mangku Purnama.
" Mo njenengan lihat ada yang lewat?," tanyaku.
" Sampean bisa lihat mbak? Lihat apa?," tanya Beliau.
" mboten ningali langsung tapi namung sak klebatan, perempuan ( tidal melihat langsung tapi cuma seklebat lewat,perempuan)," ucapku.
"Oh, nggih. Monggo sembahyang," kata Beliau.
Kami melaksanakan sembahyang bersama sama. Hening nya malam menambah kesakralan Pura. Di sini aku merasa dingin kembali.
"Sudahlah, mungkin aku bisa merasakan," gumanku.
Ini perjalanan ku selama 1 hari, perjalanan spiritual paling panjang pertama di hidupku. Astungkara ...
Bagaimana cerita ini menurut kalian? Tulis komentarnya di bawah ya.
Terimakasih sudah membaca artikel ini jangan lupa share ke teman teman dan grup social media kalian.
Happy Nice Day.
Om Santih Santih Santih Om



