Oṁ Svastyastu.

Dengan ilmu gathok, ijinkan dalam beberapa hari kedapan ini,  Pak I Gede Putu Suardana akan mengupas aksara – aksara dalam kata “HINDU” (walaupun ini sudah pernah disampaikan di beberapa pura pada saat saya ngayah), semoga menjadi inspirasi bagi kita semua dalam  bertingkah laku dan semakin bangga menjadi HINDU.

1. H


Kita awali dari Aksara H adalah  Hita Karana. Aksara ini berpesan kepada kita agar menjadi penyebab dari kedamaian itu. Manusia sebagai mahluk sosial tidak dapat lepas dari adanya interaksi dengan lingkungan yang ada di sekitar kita, baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata (gaib). Kasat mata adalah sesuatu yang dapat dilihat atau yang memiliki wujud, sesama manusia dan alam semesta. Sedangkan yang tidak memiliki wujud, adalah Tuhan dan para Dewa, atau mahluk – mahluk Gaib lainnya, tetapi juga yang berada di dalam diri kita yaitu pikiran. Kita tidak bisa menyuruh atau memaksa orang lain agar mengikuti apa yang kita inginkan agar kita merasakan kedamaian agar kehidupan ini menjadai damai sementara kita sendiri bertindak semau gue. 

Disaat kita dapat menyesuaikan (menselaraskan) pikiran kita dengan semua lingkungan – lingkungan tersebut, maka disanalah kita akan merasakan kedamaian itu. Sarasamucaya mengajarakan matangyan prihen tikang bhuta hita, haywa tan maasih reng sarwa praani, apan ikang praana ngaranya, ya ika nimitaning kepagehan ikang catur marga, nag dharna artha kama moksah, oleh karena itu usahakanlah kesejahteraan mahluk hidup, janganlah tidak menaruh belas kasihan kepada semua mahluk, karena kehidupan mereka itu yang menyebabkan terjamin tegaknya Catur Warga, Dharma Artha Kama Moksha (Sc-235).

Sebelum kita dapat menciptakan kedamian bagi orang lain (lingkungan), kita harus mendamaikan diri kita sendiri terlebih dahulu. Menyadari dengan keberadaan diri, menyadari dengan potensi diri, menyadari dengan adanya perbedaan. Salah satu sumber dari keresahan dalam diri adalah karena kita tidak dapat menerima adanya perbedaan. Dalam bentuk apapun itu! Baik perbedaan secara fisik maupun perbedaan secara prilaku (behavior differencess).

Disaat kita berharap A tetapi yang terjadi adalah B dan kemudian kita menjadi resah gelisah dan marah, ini adalah salah satu contoh dari bentuk ketidak mampuan kita dalam memahami perbedaan itu.  Dan semua itu bersumber dari Kama yang tidak terkendalikan (sudah disampaikan dalam Vidya Vakya sebelumnya). Oleh karenya mari kita kendalikan Kama, angayubhagia dengan segala yang ada dan mampu kita peroleh saat ini. Lupakan kenangan masa lalu (tidak ditinggal oleh waktu), jangan terbuai indahnya khayalan masa yang akan datang (tidakmendahului waktu), dan nikamtilah apa yang ada saat ini (hiduplah sesuai waktunya). santosa trisu kartavyah svadare bhojane dhane, puaslah dengan tiga hal istri/suami sendiri, makanan yang ada dan kekayaan yang mampu diperoleh (CN.VII.4).

Setelah kita mampu berdamai dengan diri sendiri (mendamaikan diri), selanjutnya adalah menjaga tindakan – tindakan sendiri agar menciptakan kedamaian bagi semua yang ada disekitar kita. Jangan sampai kedamaian kita adalah kekacauan (ketidak nyamanan) bagi yang lain. Banyak ajaran – ajaran susila yang memberikan tuntunan agar kita menjadi penyebab kedamaian tersebut. Salah satunya yang sudah sangat kita kenal yaitu Trikaya Parisudha adalah tiga perbuatan atau prilaku yang harus disucikan, yang terdiri dari ; Manacika Parisudha, yaitu perfikir yang baik, Wacika Parisudha yaitu berkata yang baik dan Kayika Parisudha yaitu berbuat yang baik. Sebelum lebih jauh pembahasan tentang Trikaya Parisudha, mari kita samakan persepsi dulu berkaitan dengan kata baik tersebut. Baik berarti apa yang kita lakukan adalah benar dan memberikan manfaat bagi orang lain berupa perasaan bahagia atau perasaan senang, yang berarti juga tidak menyakiti dalam bentuk apapun. Acuan benar menurut ketentuan agama adalah sesuai dengan aturan Sastra (agama maupun hukum negara).

tasmāc chāstraṁ pramāṇaṁ te kāryākāryavyavasthitau jñātvā śāstra-vidhānoktaṁ karma kartum ihārhasi. 
sebab itu, gunakan anjuran susastra sebagai pedoman bagi perbuatanmu; apa yang mesti kau lakukan, dan apa yang mesti kau hindari. Demikian, dengan panduan susastra, berkaryalah di dunia ini (Bg.16.24).

Trikaya Parisudha adalah berfikir yang baik, menurut sastra adalah Prawrtyaning manah rumuhun ajarakena, telu kwehnya, pratekanya si tan engin adengkya ri drbyaning len, tan krodha ring sarwa sattwa, si tan mamituhwa ri hana ring karmaphala, nahan tang tiga ulahaning manah, kahrtaning indriya ika. (Sc-74).

Yang pertama kali dikendalaikan adalah Pikiran, ada tiga hal dalam pengendalian pikiran yaitu, yang pertama adalah si tan engin adekya ri drbyaning len yaitu ia yang tidak iri hati dengan milik orang lain. Rasa iri muncul pada saat seseorang tidak mampu mengendalikan keinginan nya, apapun bentuk keinginan itu, sekalipun mungkin keadaannya sudah lebih baik. Dari rasa iri ini dapat muncul berbagai macam tindakan, baik dalam bentuk kata – kata maupun dalam bentuk perbuatan. Oleh karena itu, mari jauhkan pikiran dari rasa iri, terhadap apapun, terhadap siapapun, kapan pun dan dimanapun yaitu dengan tetap berfikir positif. Rasa dengki dan irihati hanya akan menyiksa diri kita, membuat hati dan pikiran kita tidak tenang.  

Ajaran Manacika yang ke dua adalah, si tan krodha ring sarwa satwa, ia yang tidak membenci (marah) kepada semua mahluk. Marah adalah salah satu sifat bawaan kita, sehingga tidak mungkin bisa kita hilangkan, sifat ini hanya perlu dikendalikan dan diarahkan agar marah itu tidak menyakitkan. Marahlah kepada diri sendiri ketika kita tidak bisa mengendalikan marah kita sendiri, pikirkanlahitu. Apapun dan sekecil apapun bentuk kemarahan itu akan memberikan luka, baik luka dalam diri kita sendiri juga luka pada yang lainnya. Kemarahan tidak ubahnya seperti jika kita menancapkan sebatang paku kedalam tembok, akan mengakibatkan ada lubang dalam tembok tersebut.

Kemarahan itu hanya menutupi kesempatan kita untuk memperoleh kesempatan menjadi lebih baik, menutup pintu menuju keberhasilan dan membawa kita pada kehancuran dan kemusnahan.

rodhādād bhavati saṁmohaḥ saṁmohāt smṛti-vibhramaḥ smṛti-bhraṁśād buddhi-nāśo buddhi-nāśāt praṇaśyati. 
dari amarah timbulah kebingungan, dari kebingungan hilang ingatan, dari hilang ingatan menghancurkan penalaran, dari kehancuran penalaran membawanya pada kemusnahan (BG. 2.63).

si tan krodha ring sarwa satwa juga berarti bahwa kita hidup dengan saling mengasihi tanpa memandang kedudukan dan status sosial. apan tan hana lewiha sangkeng prāṇa ngaranya, nghing hurip mūlya ring triloka, matangnyan māsiha juga ngwang, sāsihning ngwang māwak, mangkana asihning wang reng len, sebab itu tidak ada sesuatu yang kiranya lebih utama dari pada hidup, hanya hidup yang berharga tinggi di dalam triloka, oleh karena itu hendaklah orang selalu menunjukan cinta kasihnya, sebagaimana cinta kasihnya terhadap dirinya, demikian hendaknya cinta kasih orang kepada orang lain (Sc.146). 

Untuk membangun rasa cinta kasih sehingga kita tidak membenci dan marah dengan mahluk lainya yaitu dengan melihat keberadaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam tubuh setiap mahluk.

samaṁ paśyan hi sarvatra samavasthitam īśvaram na hinasty ātmanātmānaṁ tato yāti parāṁ gatim. 
Demikian, dengan melihat-Nya berada dalam setiap mahluk dan setiap wujud (baik yang bergerak maupun yang memberi kesan tidak bergerak), ia tidak akan menyakiti sesama, dan mencapai kesadaran tertinggi (Bg.13.28). 

Ingatlah bahwa semua yang ada dialam semesta ini adalah bagian dari diri Nya, maka tidak ada alasan bagi kita untuk  membenci mahluk apapun.

Manacika yang terakhir adalah si mamituhwa ri hana ning karmaphala artinya percaya akan kebenaran ajaran Karma Phala. Percaya dengan hukum Karma Phala juga menjadi bagian dari Lima Keyakinan dalam Agama Hindu (Panca Sradha). Tiga hukum dalam Karma Phala yaitu ; Sancita Karma Phala merupakan jenis phala/hasil yang diterima pada kehidupan sekarang atas perbuatannya di kehidupan sebelumnya. Prarabdha Karma Phala merupakan jenis perbuatan yang dilakukan pada kehidupan saat ini dan phalanya akan diterima pada kehidupan saat ini juga. Kryamana Karma Phala merupakan jenis perbuatan yang dilakukan pada kehidupan saat ini, namun phalanya akan dinikmati pada kehidupan yang akan datang. Dengan meyakini adanya hukun Karma Phala maka kita akan senantiasa menjaga setiap tindakan – tindakan kita, karena semua dari kita senantiasa berharap kebaikan, senantiasa berharap kebahagiaan.

Perbuatan yang benar dan baik akan menghasilkan kebahagiaan, sementara perbuatan yang salah dan buruk akan mendatangkan penderitaan, itulah hukum Karma Phala. Hukum Karma Phala berlaku bagi siapapun, percaya atau tidak percaya, setuju ataupun tidak setuju Karma Phala ini akan tetap berjalan. Dengan mempercyai ajaran Karma Pahala, kita tidak akan bersedih hati atau putus asa disaat keadaan yang kita alami sedang tidak menyenangkan, sebab kita yakin itu semua adalah Pahala atas Karma kita sendiri. Ingatlah, Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak akan salah memberikan Pahala terhadap pelakunya, seperti seekor anak sapi yang tidak pernah salah mencari induknya diantara ribuan ekor sapi yang ada.

ekah prajayate jantureka ewa praliyate eko ’nubhumkte sukritam eka ewa ca duskritam. 
sendirianlah orang itu lahir, sendirian pulalah ia meninggal, sendirianlah ia menikmati pahala perbuatan baiknya dan sendirian pulalah ia menderita ganjaran dosa-dosanya. (Mds.4.240).  

Tri Kaya Parisudha yang kedua adalah pengendalian perkataan (Wacika Parisudha). Berbicara adalah salah satu aktivitas komunikasi yang paling awal atau paling tua di antara aktivitas komunikasi yang lain seperti mendengar (menyimak), membaca, menulis dan dengan menggunakan isyarat. Selain itu, dalam berbicara menggunakan bahasa yang juga merupakan salah satu aktivitas budaya yang paling penting, di antara unsur budaya yang lain. Fungsi/peran berbicara secara Sosiolinguistik memiliki tujuh fungsi,  menurut Halliday dalam Language Structure and Language Function, yaitu fungsi sebagai ; instrument, instruktif, informatif, interaktif, emotif, heuristik dan imajinatif.  Kedudukan berbahasa (berbicara) dalam kerangka konsep agama Hindu dan ditinjau dari aspek etika berbicara adalah sebagai lambang nilai budaya dan nilai sosial di dalam masyarakat Hindu.

Salah satu sumber sastra yang menguraikan tentang pengendalian perkataan adalah Sarasamucaya termuat dalam sloka 75 mengatakan, nyang prawrtyaning wāk, pāt kwehnya, pratekanya, ujar ahala, ujar aprgas, ujar picuna,  ujar mithyā, nahan tang pāt  singgahananing wāk, tan ujarakna, tan angên ngênan kojaranya. Inilah yang tidak patut timbul dari kata – kata, empat banyaknya, yaitu perkataan jahat (kotor/jorok), perkataan kasar menghardik (mencaci maki), perkataan memfitnah, perkataan bohong, itulah keempatnya harus disingkirkan dari perkataan, jangan diucapkan, jangan pula dipikir – pikir akan diucapkan. Uraian dari maksud dam makna dari sloka tersebut sudah sangat jelas sekali.

Empat vidya vakya yang sudah sangat sering kita dengar yang bersumber dari Nitisastra.65 yaitu, wasitai nimitanta menemu laksmi karena berbicara kita menemukan kebahagiaan, wasita nimitanta pati kapangguh karena berbicara kita memperoleh kematian, wasita nimitanta manemu dukha karena berbicara kita memperoleh kedukaan/penderitaan, wasita nimitanta manemu mitra karena berbicara kita memperoleh sahabat. 
Begitu pentingnya tugas dari kata – kata (berbicara) itu, maka marilah kita kendalikan setiap perkataan – perkataan, setiap ucapan - ucapan kita yaitu dengan memikirkan terlebih dahulu sebelum di-ucapkan. 

āpnoti sūkta vākena aśisahā. 
seseorang yang berbicara dengan kata – kata yang manis akan memperoleh wara nugraha (Yv.XIX.29). 

Namun demikian, dalam keseharian, tidak selamanya perkataan benar itu baik demikian juga tidak selamanya perkataan bohong itu buruk atau tidak baik, Na tahya wacanam sathyam na tahya wacana mrsa, yad bhutahita mathyartham tat satya mitaramrsa. Kuneng paramaarthanya nihan, tan ikang ujar adwa ktikang mithya ngaranya, tan ikang si tuhu satya ngaranya, kuneng prasidhanya, mon mithya ikang ujar teher mangade hita juga, magawe sukhawasana ring sarwabhaawa, ya satya ngaranika, mon yathaabhuta towi yan tan pangede sukhaawasaana ring sarwabhaawa, mithyaa ngaranika, bicara yang tidak benar belum tentu bohong sebab menimbulkan kebaikan, satya juga namanya, bicara yang benar kalau menimbulkan akibat yang kurang menyenangkan, dinamakan dusta juga (sc.134).

Jadi juga sangat tergantung oleh keadaan lawan bicara kita, tergantung situasi dan kondisi lawan bicara kita. Saaat kita berbicara dengan sesama teman yang akrab khususnya di wilayah Surabaya (kalau di Bali gaya Beleleng...) justru kata – kata yang (maaf) kasar itu menunjukan sebuah kedekatan dan keakraban, dan itu sudah biasa kita dengar. Pemilihan kata -  kata yang tidak menyakiti walaupun sesungguhnya kita mengatakan hal yang benar sangat penting, seperti misalnya saat kita bertemu dengan sahabat yang kebetulan tubuhnya gemuk, tentu akan lebih elok jika kita mengatakan wah badannya kelihatan segar dan berisi ya..., dari pada kita mengatakan wah awake jek lemune rek......., karena tidak semua orang, (maaf..., khususnya para wanita ) senang jika di bilang Gemuk.  Namun demikian ada lima perkataan tidak benar (kebohongan) yang diijinkan yang dikenal dengan Panca Nrta yaitu, berbohong pada anak kecil, berbohong terhadap orang sakit, berbohong dalam jual beli, berbohong kepada musuh, Berbohong untuk menyelamatkan perkawinan.

Ingat, luka karena kata - kata adalah lukanya dalam hati dan itu tidak ada obatnya, oleh karenanya mari kita kendalikan setiap perkatan – perkataan kita,

anudvega-karaṁ vākyaṁ satyaṁ priya-hitaṁ ca yat svādhyāyābhyasanaṁ caiva vāṅ-mayaṁ tapa ucyate. 
ucapan yang tidak menyinggung paerasaan, ucapan yang tidak melukai hati, ucapan  yang benar, lemah lembut dan menyenangkan, selalu mempelajari kitab suci, inilah dikatakan sebagai bertapa dengan ucapan (Bg.XVII.15).

Trikaya Parisudha yang ketiga adalah pengendalian perbuatan, dijelaskan dalam Sarasamucaya, nihan yan tan ulahakêna, syamātimāti, mangahalahal, si paradāra, nahan tang têlu tan ulahakna ring asing ring parihāsa, ring āpatkāla, ri pangipyan tuwi singgahana jugeka. Inilah yang tidak patut dilakukan, membunuh, mencuri, berzina, ketiganya jangan hendaknya dilakukan terhadap siapapun, baik secara berolok olok, bersenda gurau, dalam keadaan dirundung malang, dalam keadaan darurat, dalam khayalan sekalipun hendaknya dihindari saja ketiganya itu (Sc.76). Demikian pengendalian dari perbuatan itu ada tiga tindakan yang tidak boleh dilakukan, dalam segala hal, bahkan dalam keadaan bersenda gurau dan dalam khayalan (membayangkan) saja tidak dijinkan.

Pengertian dari Syamātimāti atau membunuh tidak saja dalam arti menghilangkan Nyawa, khususnya terhadap manusia, tetapi juga suatu tindakan menghalangi kesempatan orang lain untuk mendapatkan atau melakukan sesuatu kegiatan yang baik atau melakukan kewajiban untuk memperbaiki kualitas dirinya (menghilangkan hak orang lain) dengan cara apapun. Ingatlah, ini juga termasuk pembunuhan!. Sedangkan Si paradāra tidak terbatas pada soal bezinah atau berselingkuh dalam arti fisik, tetapi pengertian lebih luasnya adalah menduakan kebenaran. Disaat kita telah mengetahui bahwa yang akan kita lakukan adalah salah (tidak benar) tetapi karena sesuatu hal, baik yang muncul dari dalam diri maupun karena tekanan dari luar,  namun kita tetap melakukan nya, dan bahkan memberi argumentasi untuk membenarkan perbuatan kita tersebut. Hal itu secara Rohani juga termasuk si paradara atau berzina. Dalam Bhagavadgita,  mereka yang bertindak seperti ini adalah termasuk kedalam golongan orang yang bersifat Rajasik.

yayā dharmam adharmaṁ ca kāryaṁ cākāryam eva ca ayathāvat prajānāti buddhiḥ sā pārtha rājasī. 
Kecerdasan yang mengetahui benar dan salah, yangboleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan, namun secara keliru ini disebut Rajasa (Bg 18.31).

Demikianlah Tri Kaya Parisudha itu, sepuluh pengendalian indria, yang terdiri dari tiga pengendalian pikiran, empat pengendalian perkataan, dan tiga pengendalian perbuatan. Tri Kaya Parisudha adalah salah satu ajaran Susila yang sangat kita kenal dan hanya ada di Agama Hindu yang mengajarkan kita untuk berfikir, berkata dan berbuat yang baik, yang dapat membawa kita pada kedamaian, bagi diri sendiri maupun juga bagi semua yang ada disekitar kita. membuat kita semakin bangga menjadi Hindu. Dengan menjalankan ajaran Trikaya Parisudha niscaya kita akan dapat menjadi insan yang Hita Karana, yaitu insan yang menjadi penyebab dari kedamaian itu, dan marilah pernyataan ini kita tanamkan dalam diri kita masing – masing, sebagai sebuah kebenaran yang berlaku juga bagi orang lain (Para Dharma)

matangyan rengo sarva daaya, paramaartha ning sinaggah dharma, telas renengonta supwanantaa ta ri hati, ikang kadi ling mami nguniwih, saasing tan kahyun yaawakta, yatika tan ulahakenanta ring len.
karena ituperhatikanlah perbuatan anda, sehingga anda dpat mengetahui hakekat sejatinya ayng disebut Dharma, setelah anda  mengetahui, simpanlah itu baik – baik di dalam hati sebagaimana telah hamba katakan dulu, segala yang tidak menyenangkan anda, hal itu hendaknya jangan dilakukan pada orang lain (Sc.44).

2. I


Aksara ke dua dari kata HINDU, adalah I yang artinya Idep reng Jnana yaitu Pikiran dikendalikan oleh pengetahuan. Dalam Tri Kaya Parisudha yang telah dijelaskan didepan bahwa pikiranlah yang pertama kali harus dikendalikan, karena Pikiran adalah awal dari gerak Indria.

apan ikang manah ngaranya, ya ika witning indriya, maprawrti ta ya ring subhaasubhakarma, matangyan ikang manah juga prihen kahrtanya sakareng.
sebab yang disebut pikiran itu, adalah sumbernya nafsu, ialah yang menggerakkan perbuatan yang baik atau pun buruk, oleh karena itu pikiranlah yang segera patut diusahakan pengendaliannya (Sc-80).

Dalam kehidupan sehari – hari, kita sering dihadapkan pada dua atau lebih pilihan - pilihan yang sulit, demikian juga kabar berita yang tersebar di media sosial kita sulit membedakan mana berita yang benar dan mana berita yang salah (hoax). Hanya dengan Ilmu Pengetahuan maka kita akan dapat melihat kebenaran dan menentukan pilihan yang benar dan baik. 




jñānena tu tad ajñānaṁ yeṣāṁ nāśitam ātmanaḥ, teṣām āditya-vaj jñānaṁ prakāśayati tat param.

mereka yang ketidak tahuannya dilenyapkan oleh pengetahuan tentang Atman, sesungguhnya pengetahuan itu bercahaya bagaikan matahari memperlihatkan Yang Maha Tinggi (Bg-5.16).



Dalam kemajuan serta perkembangan tehnologi dan era keterbukaan seperti sekarang ini, kita semua dituntut untuk cerdas dan cepat dalam menggunakan peluang dan kesempatan yang ada. Hanya mereka yang memiliki pengetahuan lah yang akan mampu bersaing dan menjadi pemenangnya.  Sakti ngarania sangsarva jnyana sar-wa karta, sakti namanya adalah mereka yang memiliki banyak ilmu dan banyak karya berdasarkan ilmu yang dimiliki (WT.14) Dalam kitab Agni Purana, Ilmu pengetahuan ada dua jenis, yaitu Para Widya dan Apara Widya. Para Widya adalah ilmu yang mempelajari tentang pengetahuan kerohanian atau yang biasa kita sebut dengan Brahma Widya, sedangkan Apara Widya merupakan ilmu pengetahuan yang  berisi tentang pengetahuan keduniawian. Dua ilmu atau kalau diterapkan secara seimbang dan terpadu akan dapat membangun kehidupan yang seimbang antara kehidupan rohani dan kehidupan duniawi. Seimbangnya kehidupan rohani dan duniawi itulah yang akan membawa kita pada kebahagiaan lahir batin. Agar kita bebas dari penderitaan, marilah kita bersahabat dengan Ilmu Pengetahuan nora na mitra mangluwihane wara guna maruhur. Dalam Kitab Manusmrti 5.109, penyucian (pengendalian) pikiran adalah dengan kejujuran, manah satyena sudhyanti. Kejujuran tidak saja mengatakan yang sebenarnya, tetapi juga melakukan sesuai dengan yang di ucapkan. Sekali saja kita berkata bohong (tidak jujur), maka seterusnya kita akan berbohong (tidak jujur) untuk menutupi kebohongan – kebohongan sebelumnya.  jangan ada dista diantara kita...

Masa menuntut Ilmu (belajar) tidak terbatas pada masa Brahmacari Ashrama atau pada kita tercatat sebagai siswa/mahasiswa saja, tetapi selama kita hidup adalah waktu untuk belajar sampai kita mengerti dan siap untuk  menghadapi dan menerima kematian itu dengan gembira. Kita sering belajar hanya pada sosok dengan deretan gelar yang terdapat di belakang nama seseorang, namun bagi mereka yang rendah hati dan bijaksana menjadikan setiap orang adalah guru. Alam adalah tempat belajar (sekolah) yang sesungguhnya dan semua mahluk yang ada didalamnya adalah guru – gurunya. Salah satu pesan bijak yang tertuang dalam Serat Wulangreh pupuh tiga karya Shri Susuhan Pakubuwono-4 mengatakan, tutur bener puniku, sayektine apantes tiniru, nadyan metu sakeng wong sudra papeki, lamun becik nggone murup, iku pantes siro enggo, ucapan yang benar itu sejatinya pantas untuk diikuti meskipun keluar dari orang yang rendah derajatnya, jika mengajarkan kebaikan itu pantas engkau pakai. Demikianlah beliau mengajarkan, karena sesungguhnya kita semua yang terlahir ini adalah tidak sempurna, dipenuhi dengan kekurangan, nirdoso naiva jayate. Marilah kita belajar dengan kerendahan hati, dengan bertanya dan dengan melayani maka disanalah kita akan memperoleh pengetahuan yang sesungguhnya. 

tad viddhi praṇipātena paripraśnena sevayā upadekṣyanti te jñānaṁ jñāninas tattva-darśinaḥ. 
Pelajarilah kebenaran dengan cara mendekati seorang guru kerohanian. Bertanya kepada beliau dengan tunduk hati dan mengabdikan diri kepada beliau. Orang yang sudah insaf akan dirinya dapat memberikan pengetahuan kepadamu karena sudah melihat kebenaran (Bg.4.34).

Salah satu tujuan kita terlahir kedunia ini adalah kesempatan yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperbaiki kualitas kehidupan kita yaitu dengan senantiasa menjalankan Dharma. Dan itu semua hanya bisa dilakukan jika kita memiliki pengetahuan. 

api ced asi pāpebhyaḥ sarvebhyaḥ pāpa-kṛt-tamaḥ sarvaṁ jñāna-plavenaiva vṛjinaṁ santariṣyasi.  
walau engkau adalah seorang yang paling berdosa di antara semua yang orang – orang yang berdosa, engkau akan dapat melampui (lautan) segala dosa - dosa tersebut dengan menggunakan perahu Ilmu Pengetahuan sejati (Bg.4.36).

Demikianlah pesan Aksara I dalam kata Hindu (Idep reng Jnana), marilah kita menjadi insan – insan Hindu yang memiliki Viveka, dengan terus belajar dan membuka diri terhadap perubahan namun tetap teguh hati melangkah di jalan Dharma. Jadilah seekor lebah, bukan seekor lalat.

3. N


Aksara yang selanjutnya adalah N yaitu Nirmalātmaka Nir : tidak atau bebas, Mala : kotoran, Atmaka : atma, jadi terjemahan secara bebas mengandung arti Atman yang bersih, bebas dari kotoran atau dapat dikatakan hati yang bersih (suci). Dengan Hati yang bersih maka cahaya sang Atman yang bersemayam di padma Hrdaya kita akan dengan bebas menerangi setiap yang ada, setiap yang kita alami (sesuatu yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan) sehingga dengan demikian kita akan dapat mengambil langkah (bertindak) yang benar atas semua peristiwa - peristiwa tersebut. Satu hal yang harus di pahami adalah, sesungguhnya sang Atman tersebut tidak dapat di kotori tetapi Cahaya Sucinya hanya di tutupi (diselimuti) oleh pahala yang diakibatkan oleh perbuatan kita yang tidak baik (asubha karma). 

dhūmenāvriyate vanhir yathādarśo malena ca, yatholbenāvṛto garbhas tathā tenedam āvṛtam. 
Bagaikan api yang diselubungi asap, bagaikan cermin yang diliputi debu, bagaikan bayi yang terbungkus dalam kandungan, demikian pula Dia diselimuti olehnya (Bg.III.38).

Lalu bagaimana agar penutup – penutup yang tidak baik tersebut mudah dihilangkan? Salah satu caranya adalah dengan menjalankan Trisandya. 

Purwam samdhyam japam stisthan raicemeno wyapohati, pacimam tu samasino malam hanta diwakrtam
Ia yang berdiri diwaktu subuh mengucapkan mantra sawitri menghapus dosa yang dilakukan selama malam sebelumnya, tetapi ia yang duduk mengucapkannya diwaktu senja (malam) memusnahkan dosa - dosanya yang dilakukan disiang hari (Mds.II.102).

Cara yang ke dua adalah dengan selalu mengawali setiap kegiatan kita dengan Doa. Ada tiga hal yang terkandung saat kita ber-DOA yaitu, D adalah Dharma. Dalam Doa ada kebenaran, dalam doa ada Dharma. Dengan mengawali setiap kegiatan dengan Doa menunjukan bahwa kita melakukan kegiatan yang benar dan baik atau perbuatan Dharma. O adalah Om, Om matemahan sakeng triaksara, triaksara matemahan sakeng Pancaksara, Pancaksara matemahan sakeng Dasaksara. Jadi dengan mengawali kegiatan kita dengan Doa berarti kita melibatkan Tuhan, kita mengajak Tuhan dalam kegiatan - kegiatan tersebut. A adalah angayubhagia, hati yang riang gembira. Bagiamanapun sulitnya pekerjaan tersebut, tetaplah lakukan dengan gembira dan lakukan dengan penuh semangat, dan bagaimanapun hasilnya terimalah dengan rasa yang penuh suka cita dengan tetap mengucapkan parama suksma. Dengan hati yang bersih kita akan dapat melihat segala persoalan dengan baik sehingga kemudian kita akan bertindak yang benar. 

ṛco akṣare parame vyoman, yasmin devā adhi viśve niṣeduḥ. 
dimana ada aksara suci dan mantra mantra (doa) Weda di ucapkan, disana pula para Dewa berada dan memberkati pemujanya (Rv.I.164.39).

Bagaimana kalau kita tidak tau Doa nya? Jangan kuatir, Ida Sang Hyang Widhi Wasa itu maha tahu, dengan bahasa dan cara apapun kita ber-Doa Beliau pasti tahu dan mengerti, jadi tidak ada masalah. Dengan bahasa Bali, bahasa jawa, bahasa madura, bahasa inggris, silahkan. Ini juga mengandung arti bahwa jangan sampai kita tidak ber-Doa hanya karena kita tidak tahu Doanya, ber-Doalah dengan bahasa yang kita bisa dan kita mengerti arti dan maksud dari Doa tersebut. Akan lebih baik kita ber-Doa yang kita sendiri paham dan mengerti dengan arti dan maksud dari Doa tersebut, dari pada kita ber-Doa dengan bahasa Sanskrta tetapi tidak paham, tidak mengerti dengan artinya, hanya supaya terdengar dan kelihatan keren.

nacyanti hawyah kawyani naranama wijanatam, Bhasmi bhutesu wipresu mohad dattami datrbhih. 
yadnya yg dilakukan oleh mereka yg tidak tau peraturan (maknanya) adalah sia - sia, kalau memberi karena kebodohan nya, maka pemberian itu tdk ada bedanya dg abu. (Mds.3-97).

Cara yang ke tiga adalah  selalu mengingat dengan menyebut nama beliau, kapan pun dan dimanapaun (namasmaran).

tasmāt sarveṣu kāleṣu mām anusmara yudhya ca mayy arpita-mano-buddhir mām evaiṣyasy asaṁśayaḥ. 
karena itu, kapan saja ingatlah pada Ku selalu, dan berjuanglah terus maju, dengan pikiran dan pengertian tetap pada Ku, engkau pasti akan sampai kepada Ku (Bg.8.7).

Cara yang ke empat untuk mensucikan (membersihkan) kotoran sang Atman  adalah dengan Tapa Bratha

vidya tapobyam bhutatma. 
yaitu atman disucikan dengan Tapa Bratha (Mds.V.109).

Tapa atau Bratha adalah pengendalian diri, pengekangan gerak indria atas segala godaan – godaan nikmatnya yang sesungguhnya itu semua adalah Maya. Dengan melakukan Tapa Bratha atau pengedalian diri maka kita akan senatiasa melihat kebenaran yang sesungguhnya.

Vratena diksam āpnoti Diksayå-āpnoti daksinām, Daksinā śraddhām āpnoti Śraddhayā satyam āpyate. 
Dengan menjalankan brata,  seseorang mencapai diksa (penyucian diri), dengan diksa seseorang mencapai daksina (penghormatan), dengan daksina seseorang mencapai śraddhā (keyakinan), dan melalui śraddhā seseorang menyadari kebenaran sejati yaitu Tuhan Yang Maha Agung (Yv. XIX. 30).

Demikianlah akasara N yaitu Nirmalātmaka mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bertindak (berfikir, berkata dan berbuat) selalu dengan hati yang bersih, dengan hati yang tenang, dengan positive thinking, sehingga Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai sang Atman akan menampakan diri dalam bentuk kebenaran dan memberikan cahaya Nya yang suci untuk menuntun langkah kita dalam menjalankan Swadharma dengan berpegang teguh pada Dharma.

prasāde sarva-duḥkhānāṁ hānir asyopajāyate prasanna-cetaso hy āśu buddhiḥ paryavatiṣṭhate. 
dalam keadaan tenang, tenteram – berakhirlah segala duka, segala derita, pada saat gugusan pikiran dan perasaan tenang, buddhi atau inteligensia berkembang, maka tercapailah kesempurnaan dan kebahagiaan dalam hidup berkesadaran (Bg.2.65).

4. D


Aksara kata Hindu yang selanjutnya adalah D yang berarti Dharma. Dharma secara umum khususnya dalam Agama Hindu berarti Agama atau berarti juga Kebenaran atau juga berarti Kebaikan yang bersumber dari kitab suci. Sumber kebenaran tertinggi dalam Agama Hindu adalah kitab Catur Weda dan secara gradasi ada lima sumber kebenaran yang bisa dijadikan sebagai rujukan.

vedo 'kilo dharma mulam Smrti Sile ca tad vidam, Acarasca iva sadhunam  Atmanas tustir eva ca
Veda adalah sumber dari segala Dharma, kemudian barulah smrti,  disamping sila, acara dan atmanastuti (Mds.2.6).

Ini juga mengandung pesan bahwa dalam menjalankan Dharma disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan kemampuan kita masing - masing, artinya saat ketentuan dalam Catur Weda kita tidak bisa menjalankan atau memahami, maka kita mengacu pada kebenaran dibawahnya yaitu manusmrti, demikian seterusnya sampai pada Atmanastuti. Sejak kapan kita sebagai umat Hindu menjalankan Dharma? Jawabnya, sejak kita masih didalam kandungan sampai kita sudah meninggal. Saat Usia tujuh bulan (masih dalam kandungan), saat lahir, turun lemah, tiga bulan, enam bulan, menginjak dewasa, dewasa, menikah, meninggal, ngaben, sampai kita ditempatkan di R3 (rong tiga), itu semua adalah Dharma. Dalam semua tahapan – tahapan tersebut adalah merupakan perbuatan - perbuatan Dharma. Oleh karenanya, berbanggalah, berbahagialah kita terlahir sebagai orang Hindu.

eka eva suhrddarmo nidhanen 'pyanuyatiyah, carirena samam nacam sarwam anyadhiyacchati.  
Satu - satunyanya yang tetap setia menyertai seseorang menuju kedamaian bahkan setelah mati sekalipun adalah Dharma, yang lainnya akan hilang pada waktunya bersamaan dengan lenyapnya jasad ini (Mds.8.17).

Sekali lagi itu semua adalah Dharma dalam bentuk Upacara Yadnya yang merupakan proses penyucian dan juga bagian dari menjalankan kewajiban dalam rangka membayar hutang (Tri Rna). Dharma itu hanya sarana, hanya petunjuk, tergantung bagaimana kemudian kita menggunakan, menjalankan dan mengendalikan Dharma itu sehingga ia dapat mengantarkan kita menuju kebebasan, menuju pada kebahagiaan. Tidak saja kebahagiaan bagi diri kita sendiri tetapi juga kebahagiaan bagi semua yang ada disekitar kita.

ikang dharma ngaranya, hetuning mara ring swarga ika, kadi gatining parahu an hetuning banyangga nentasing tasik
adalah Dharma yang mengantarkan seseorang menuju sorga (kebahagiaan), seperti perahu yang di gunakan untuk menyeberangi lautan (Sc.14).

Marilah segala tindakan – tindakan kita (berfikir, berkata dan berbuat) bersumber dari Dharma, kita jalankan Swa-Dharma kita masing - masing dengan tetap berpegang teguh pada Dharma (kebenaran) agar tercapai kesadaran yang mekar sepenuhnya (vikasita cetana).

5. U


Sampailah kita pada huruf terakhir dari kata Hindu yaitu U, adalah Usaha, bekerja, atau berbuat. Untuk mewujudkan semua yang telah diuraikan didepan, kita harus ber-usaha, tidak bisa hanya dengan berbicara. Tujuan kita mengalami punarbawa (lahir kembali) adalah untuk memperbaiki kualitas kehidupan kita agar layak mencapai Moksah atau layak bersatu dengan Sang Hyang Widhi Wasa. Untuk mencapai tujuan itu maka kita harus ber Usaha, kita harus bekerja, kita harus berbuat sesuai dengan ketentuannya.

niyataṁ kuru karma tvaṁ karma jyāyo hy akarmaṇaḥ, śarīra-yātrāpi ca te na prasiddhyed akarmaṇaḥ. 
Sebab itu, berkerjalah sesuai dengan tugas dan kewajibanmu (yang telah ditentukan), sebab bekerja adalah lebih baik daripada tidak bekerja, bahkan tubuh mu mupun tidak akan dapat dipelihara tanpa bekerja (Bg.3.8).

Bekerjalah sesuai dengan yang ditentukan, artinya bahwa kita tidak asal bekerja sesuka hati. Wajib mengikuti ketentuan yang berlaku, sesuai kewajiban menurut Catur Ashrama, menurut Catur Purusa Arta, atau ajaran – ajaran susila lainnya. Juga yang tidak kalah pentingnya adalah bekerja menurut peraturan diinstansi atau di perusahaan mana kita terikat sebagai karyawan, dan sebagai warna negara, sebagai mahluk sosial dalam masyarakat, dalam organisasi pura dan lain sebagainya. Apa yang menjadi kewajiban – kewajiban kita setidaknya kita lakukan dan jalankan. Bekerja tidak dalam arti sempit yaitu bekerja secara fisik dalam rangka mencari harta benda semata, tetapi juga bekerja yang bersifat rohani seperti mempelajari sastra – satra atau budaya - budaya Agama,  berusaha mengendalikan Indria, menjalankan Bratha dan lain sebagainya. Dalam bekerja, mari kita fokus pada apa yang menjadi kewajiban kita, apa yang menjadi tugas kita, jangan kita ngurusin tugas dan kewajiban orang lain, apalagi kemudian sampai menilai dan mengatakan bahwa pekerjaan orang lain adalah salah (khususnya yang berkaitan dengan kewajiban terhadap Tuhan).

sreyān sva-dharma viguṇaḥ paradharmāt sv-anuṣṭhitāt, svabhāva niyataṁ karma kurvan nāpnoti kilbiṣam. 
lebih mulia melakukan kewajiban sendiri walaupun tidak sempurna dari pada melakukan kewajiban orang lain kendatipun sempurna, sesungguhnya bila ia melaksanakan tugas kewajibannya sendiri sesuai sifatnya ia tidak berdosa (Bg.18.47).

Demikian pesan bijak dari aksara – aksara pembentuk kata Hindu, mari kita gunakan sebagai pesan singkat (SMS) untuk mengingatkan kita sebelum mengayunkan langkah di kehidupan ini. 
Hita karana, menjadi penyebab terciptanya kedamaian itu, rendah hati dan penuh maaf.
Idepe reng Jnana, Cerdas dan Bijaksana dalam berfikir, berkata dan bertindak.
Nirmalaatmaka, selalu melihat sisi baik, positive thinking dalam segala hal.
Dharma, mengerti dan setia dalam menjalankan Dharma.
Usaha, tekun dan tidak pantang menyerah.
Begitu luhurnya ajaran hindu, akankah kita meninggalkan ajaran yang suci dan luhur ini?

yaḥ śāstra-vidhim utsṛjya vartate kāma-kārataḥ na sa siddhim avāpnoti na sukhaṁ na parāṁ gatim 
Ia yang meninggalkan ajaran kitab suci veda, berada dibawah pengaruh nafsu dan keinginan, tidak akan mencapai kesempurnaan, kebahagiaan dan tujuan tertinggi (Bg.16.23).

Penulis : I Gede Putu Suardana

Oṁ Śāntiḥ śāntiḥ śāntiḥ Oṁ.