Aum Swastyastu
Multisemesta, alam semesta majemuk, alam semesta jamak, jagat majemuk, nekasemesta, atau multiversum adalah hipotesis berupa kemungkinan adanya beberapa kumpulan alam semesta termasuk alam semesta tempat kita tinggal. Bersama-sama, alam semesta ini terdiri dari segala sesuatu yang ada: keseluruhan ruang, waktu, materi, energi dan hukum fisika serta konstanta yang menggambarkannya.
Alam semesta lain yang bermacam-macam di dalam multisemesta disebut "alam semesta paralel", "alam semesta lain", atau "alam semesta alternatif (altversum)"
Menurut Live Science, teori multiverse menjelaskan bahwa semesta kita termasuk dengan seluruh bintang dan galaksinya bisa jadi bukan merupakan satu-satunya alam semesta. Maka, bisa jadi jumlah semesta plus hukum fisikanya dan peradabannya sendiri adalah tak terhingga atau tak terhitung banyaknya.
Agama hindu melalui Veda telah lebih dahulu menjelaskan keberadaan multiverse daripada ilmuwan-ilmuwan sains. Agama hindu bukanlah agama yang hanya membahas hal-hal spiritual atau gaib, namun juga membahas hal-hal sains yang mengagumkan. Veda memanglah gudang pengetahuan yang banyak mengandung sains. Berikut ini adalah penjelasan veda tentang keberadaan banyak semesta.
1. Setiap alam semesta dibungkus atau dibatasi dengan tujuh lapisan, yang masing-masing terdiri dari; tanah, air, api, udara, ruang, energi murni, dan ego palsu. Masing-masing lapisan sepuluh kali lebih besar dari yang sebelumnya. Jumlah alam semesta tidak terhitung, dan terlihat seperti atom (partikel kecil) di dalam wujud Tuhan. Satu alam semesta terlihat seperti debu halus dibandingkan wujud Tuhan.
क्षित्यादिभिरेष किलावृत:
सप्तभिर्दशगुणोत्तरैरण्डकोश: ।
यत्र पतत्यणुकल्प:
सहाण्डकोटिकोटिभिस्तदनन्त: ॥ ३७ ॥
kṣity-ādibhir eṣa kilāvṛtaḥ
saptabhir daśa-guṇottarair aṇḍa-kośaḥ
yatra pataty aṇu-kalpaḥ
sahāṇḍa-koṭi-koṭibhis tad anantaḥ
(Bhāgavata Purāṇa 6.16.37)
Artinya: "Setiap alam semesta ditutupi oleh tujuh lapisan; tanah, air, api, udara, ruang, energi murni, dan ego palsu. Masing-masing sepuluh kali lebih besar dari yang sebelumnya. Ada alam semesta yang tak terhitung jumlahnya selain yang satu ini, dan meskipun semua itu tidak terhitung besar, itu semua terlihat seperti atom di dalam Anda. Oleh karena itu Anda disebut ananta (tidak terbatas)."
2. Setelah Tuhan Mahāviṣṇu/Sādaśiva menciptakan cangkang semua alam semesta dan memisah-misahkannya, Tuhan kemudian masuk ke dalam setiap semesta. Kemudian ia berbaring di samudra garbhodaka (samudra di dasar alam semesta) sebagai nārāyaṇa. Oleh karena itulah ia disebut nārāyaṇa, yang artinya yang berbaring di air. Inilah alasannya mengapa wisnu dalam film-film digambarkan sering berbaring di lautan. Menurut Veda, di dasar alam semesta ada air besar atau samudra yang bernama garbhodaka.
पुरुषोऽण्डं विनिर्भिद्य यदासौ स विनिर्गत: ।
आत्मनोऽयनमन्विच्छन्नपोऽस्राक्षीच्छुचि: शुची: ॥ १० ॥
puruṣo ’ṇḍaṁ vinirbhidya
yadāsau sa vinirgataḥ
ātmano ’yanam anvicchann
apo ’srākṣīc chuciḥ śucīḥ
(Bhāgavata Purāṇa 2.10.10)
Artinya: "Setelah memisahkan alam-alam semesta, bentuk raksasa Tuhan (Mahā-Viṣṇu) yang keluar dari Lautan Penyebab, tempat munculnya puruṣa-avatāra pertama, masuk ke dalam masing-masing alam semesta yang terpisah, kemudian ia berbaring di air transendental yang dia ciptakan (Garbhodaka)."
3. Tuhan bersemayam di setiap alam semesta, dan meresapi segala isinya. Jadi, Tuhan tentu bisa menghitung jumlah alam semesta ciptaannya. Namun apabila Tuhan menghitung jumlahnya dan kemudian memberi tahukannya kepada manusia, otak manusia akan jadi erorr, bahkan kalkulator pun akan jadi eror karena pasti jumlahnya tidak terhitung alias kebanyakan angkanya. Oleh karena itulah Tuhan bersabda bahwa ia tidak dapat menghitung kemegahan atau keagungan ciptaannya. Karena ciptaan Tuhan yang tidak terbatas tidak akan mampu dinalar oleh pikiran manusia yang terbatas.
सङ्ख्यानं परमाणूनां कालेन क्रियते मया ।
न तथा मे विभूतीनां सृजतोऽण्डानि कोटिश: ॥ ३९ ॥
saṅkhyānaṁ paramāṇūnāṁ
kālena kriyate mayā
na tathā me vibhūtīnāṁ
sṛjato ’ṇḍāni koṭiśaḥ
(Bhāgavata Purāṇa 11.16.39)
Artinya: "Meskipun aku dapat menghitung semua alam semesta, Aku tidak dapat menghitung semua kemegahanku yang Aku wujudkan di dalam alam semesta yang tak terhitung banyaknya."
4. Tidak ada yang mampu menghitung jumlah alam semesta, bahkan penguasa surga (dewa indra) dan Tuhan sendiri tidak akan menemukan akhir ciptaannya, karena memang kemuliaan tuhan tidak terbatas, maka secara otomatis ciptaannya pun juga tidak terhitung. Masing-masing alam semesta terbungkus seperti cangkang bulat. Cangkang semesta itulah yang memisahkan setiap alam semesta, sehingga setiap penghuninya tidak saling bercampur atau berbaur.
द्युपतय एव ते न ययुरन्तमनन्ततयात्वमपि यदन्तराण्डनिचया ननु सावरणा: । ख इव रजांसि वान्ति वयसा सह यच्छ्रुतय-स्त्वयि हि फलन्त्यतन्निरसनेन भवन्निधना: ॥ ४१ ॥
dyu-pataya eva te na yayur antam anantatayā
tvam api yad-antarāṇḍa-nicayā nanu sāvaraṇāḥ
kha iva rajāṁsi vānti vayasā saha yac chrutayas
tvayi hi phalanty atan-nirasanena bhavan-nidhanāḥ
(Bhāgavata Purāṇa 10.87.41)
Artinya: "Karena Engkau tidak terbatas, baik penguasa surga dan bahkan Diri-Mu sendiri tidak akan pernah dapat mencapai akhir kemuliaan-Mu. Alam semesta yang tak terhitung jumlahnya, masing-masing terbungkus dalam cangkangnya, didorong oleh roda waktu untuk mengembara di dalam Diri-Mu, seperti partikel debu yang beterbangan di langit. Veda mengungkapkan engkau sebagai kesimpulan akhir.
5. Semua alam semesta terlihat seperti atom (partikel kecil) bagi Tuhan. Semua alam semesta tersebut sangat kecil dibandingkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
दशोत्तराधिकैर्यत्र प्रविष्ट: परमाणुवत् ।
लक्ष्यतेऽन्तर्गताश्चान्ये कोटिशो ह्यण्डराशय: ॥ ४१ ॥
daśottarādhikair yatra
praviṣṭaḥ paramāṇuvat
lakṣyate ’ntar-gatāś cānye
koṭiśo hy aṇḍa-rāśayaḥ
(Bhāgavata Purāṇa 3.11.41)
Artinya: "Lapisan atau elemen yang menutupi alam semesta masing-masing sepuluh kali lebih tebal dari yang sebelumnya, dan semua alam semesta yang berkumpul tampak seperti atom (partikel terkecil) dalam kombinasi yang sangat besar."
Demikianlah śloka-śloka Veda Bhāgavata Purāṇa yang menjelaskan tentang multiverse atau banyak alam semesta. Veda telah menjelaskan keberadaan multiverse jauh sebelum manusia modern bisa terbang dengan roket ke ruang angkasa. Veda tidak hanya menjelaskan tentang hal-hal spiritual atau gaib, namun veda juga menjelaskan tentang hal-hal material atau sains. Ini semakin membuktikan bahwa Veda bukanlah karangan manusia biasa. Veda adalah wahyu Tuhan, atau nafas Tuhan yang maha esa yang berhembus darinya dan kemudian diterima oleh para Mahaṛṣi
