![]() |
| photo by@rizkalistt |
“Adbhirgātrāṇi śudhyantimanaḥ satyena śudhyati,vidyātapobhyāṃ bhūtātmābuddhirjñānena śudhyati.”(Mānavadharmaśāstra 5.108)
Artinya : “Badan dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kebenaran dan kejujuran, jiwa (ātmān) dibersihkan dengan pengetahuan suci dan tapa brata, budhi disucikan dengan kebijaksanaan.”
Melukat berasal dari kata Jawa kuno “Sulukat”, Su berarti baik, dan Lukat berarti penyucian. Melukat dapat dilakukan di rumah (di areal kemulan), merajan, tempat suci, griya (kediaman pendeta), ataupun pada sumber-sumber air seperti campuhan sungai, pancoran, dan pantai.
Melukat memiliki manfaat untuk membersihkan energi-energi negativ pada diri kita, sehingga pancaran energi (aura) tubuh kita menjadi lebih bersih dari biasanya. Bersihnya aura, atau positivnya pancaran energi tubuh akan memberikan banyak manfaat, diantaranya untuk ketenangan dan kedamaian diri sendiri, serta mahluk lain yang ada disekitar kita. Selain itu, melukat juga bisa membersihkan diri kita dari black magic atau ilmu hitam, karena pada hakekatnya ilmu hitam itu adalah energi-energi negativ yang memasuki diri kita dan memanipulasi sistem di dalam diri kita.
Note kali ini akan memberikan tata cara melakukan melukat di sumber air seperti pancuran atau pertemuan dua aliran sungai (campuhan). Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut ini:
1. Bersihkanlah batin terlebih dahulu.
Analogi yang mungkin mendekati untuk bisa menjelaskan adalah : pikiran dan badan kita ini ibarat gelas yang akan menampung energi alam dan energi alam ibarat air yang akan mengisi gelas tersebut. Semakin bersih pikiran kita dari sad ripu (enam musuh dalam diri), semakin besar “gelas-nya”, sehingga semakin banyak energi suci alam yang bisa “ditampung” dan hasilnya tentu semakin baik.
Tapi jangan khawatir bagi orang yang merasa batin dan kesehariannya kurang bersih. Bagi orang yang tidak-tenang, gelisah, banyak marah, banyak benci, penuh nafsu, dan lain-lain, justru melukat bisa sangat membantu menetralisir energi-energi negatif di dalam diri kita. Tapi dengan catatan hal ini harus dilakukan dengan benar dan rutin.
2. Datang ke lokasi melukat
Lokasi sangatlah penting untuk kita perhatikan, baik secara niskala (gaib) maupun secara sekala (kasat mata). Melukat sebaiknya dilaksanakan pada lokasi air di alam yang terbaik, yaitu : sumber mata air yang dijadikan tempat suci (misalnya : beji, pathirtan, dan lain-lain), sungai suci atau pada campuhan (titik pertemuan dua arus sungai atau lebih), atau bisa juga di pantai (laut). Lokasi-lokasi seperti ini umumnya memiliki vibrasi positif yang sangat kuat.
Ada dua hal yang sebaiknya kita perhatikan :
✓Secara niskala (gaib) : sumber mata air, campuhan atau pantai tempat melukat, selayaknya dipilih yang memiliki vibrasi energi alam yang kuat. Akan tetapi tentunya hal ini tidak bisa dilihat oleh orang biasa secara kasat mata, hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang mata batinnya sudah terbuka. Tapi seandainya kita orang biasa yang tidak tahu caranya, kita bisa mencoba berbagai tempat melukat terlebih dahulu. Lalu kita bisa memastikannya dengan merasakannya sendiri, lokasi mana yang paling kuat vibrasi positivnya.
✓Secara sekala (kasat mata): sumber mata air, campuhan, atau pantai tempat melukat, harus memiliki air yang bersih atau jernih dan tidak tercemar. Karena hal ini juga ikut mempengaruhi kualitas air sebagai media perantara.
3. Menjalankan proses pengelukatan.
Dimanapun kita melukat, kita sembahyang dahulu disana sebelum melukat. Kalau anda punya pejati itu bagus, tapi kalau tidak ada pejati dengan bekal satu canang dan dupa saja sudah cukup. Seandainya juga tidak ada canang dan dupa, bisa kita gantikan dengan mempersembahkan Gayatri Mantra.
Persembahyangan permohonan penyucian sebelum melukat sangat penting, karena kalau diberkahi, kualitas kesucian air akan meningkat tajam. Kita mohon kepada Tuhan dan dewa-dewi yang berstana disana, agar melalui penglukatan tersebut badan dan pikiran kita dibersihkan dari segala energi negativ. Khusus untuk di laut, kita mohonkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai dewa Varuna (dewa penguasa lautan).
Mantram saat persembahyangan melukat adalah sebagai berikut:
“oṃ bhūr bhuvaḥ svaḥtat savitur vareṇyaṃbhargo devasya dhīmahidhiyo yo naḥ prachodayāt.”(Ṛgveda 3.62.10)
Artinya: “Hamba menyembah kepada Tuhan yang menciptakan bhūrloka, bhuvarloka, dan svarloka. Hamba memusatkan pikiran kepada cahaya ilahi. Semoga budhi (kebijaksanaan) hamba diterangi.”
“āpo asmān mātaraḥ śundhayantughṛtena no ghṛtapvaḥ punantuviśvaṃ hi ripram pravahanti devīrud id ābhyaḥ śucir ā pūta emi.”(Ṛgveda 10.17.10)
Artinya : “Semoga air berkah semesta ini menyucikan kami. Semoga guyuran air ini memurnikan kami dari kotoran, karena air ilahi memurnikan dari segala kotoran. Semoga kami bangkit dengan keadaan bersih.”
Setelah sembahyang, barulah mulai membasahi badan (melukat) dengan air suci itu. Saat membasahi badan dengan air suci ucapkanlah mantram sebagai berikut:
“oṃ manaḥ śarīra parisudhamām svāha.”
Artinya: “Ya Tuhan, semoga badan fisik dan pikiran hamba menjadi suci.”
Kemudian, setelah selesai melukat, kita kembali sembahyang mengucapkan mantram untuk mendoakan semua mahluk sebagai berikut:
“Oṁ sarveṣāṃ svastirbhavatusarveṣāṃ śāntirbhavatusarveṣāṃ pūrṇaṃbhavatusarveṣāṃ maṅgalaṃbhavatu.”
Artinya : “Ya Tuhan, Semoga semuanya mendapatkan kebaikan. Semoga semuanya mendapatkan kedamaian. Semoga semuanya mendapatkan kesempurnaan. Semoga semuanya mendapatkan keberuntungan.”
Barulah kemudian ditutup dengan śantiḥ mantram sebagai berikut:
“Oṁ śantiḥ śantiḥ śantiḥ oṁ.”
Artinya : “Ya Tuhan, semoga damai, damai, damai selalu.”
Demikianlah tata cara melukat yang admin rangkum dari berbagai sumber. Ingat setelah melukat sebaiknya dirumah nanti dilanjutkan dengan meditasi. Pembersihan sebaiknya dilakukan dari luar dan dalam secara rutin, agar energi-energi negativ tidak kembali muncul dalam diri. Semoga dapat bermanfaat untuk umat sedharma semua.
.jpg)